PENGERTIAN DAN KEHUJJAHAN ‘URFI ATAU ‘ADAT

PENGERTIAN DAN KEHUJJAHAN ‘URFI ATAU ‘ADAT
 
PENGERTIAN DAN KEHUJJAHAN ‘URFI ATAU ‘ADAT
 
العُرْفُ هُوَ مَا اعْتَادَهُ النَّاسُ وَسَارُوْا عَلَيْهِ مِنَ الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ
'Urf ialah sesuatu yang telah dibiasakan oleh masyarakat dan dijalankan terus menerus, baik berupa perkataan maupun perbuatan.
Oleh sebagian ulama ushul fiqh, 'urf disebut ‘adat (adat kebiasaan). Sekalipun dalam pengertian istilah hampir tidak ada perbedaan pengertian antara 'urf dengan adat, namun dalam pemahaman ada di antara ulama yang membedakannya dilihat dari dua aspek
  1.  Materi (apa yang menjadi kebiasaan)
Dilihat dari aspek materi, sebagian ulama menilai bahwa ‘urf lebih umum daripada ‘adat, karena ‘urf mencakup perkataan dan perbuatan. Sedangkan ‘adat hanya berlaku untuk perbuatan.
  1.  Pelaku
Dilihat dari aspek pelaku, sebagian ulama menilai bahwa ‘adat lebih umum daripada ‘urf, karena ‘adat berlaku bagi kebiasaan individu (perorangan) dan berlaku pula bagi kebiasaan komunitas (masyarakat). Sedangkan ‘urf hanya berlaku untuk komunitas.
Macam-macam 'Urf
'Urf terbagi kepada beberapa bagian ditinjau dari tiga segi;
(1) ditinjau dari segi sifatnya 'urf terbagi kepada:
a.'Urf qauli
yaitu 'urf berupa perkataan' seperti perkataan walad, menurut bahasa berarti anak, termasuk di dalamnya anak laki-laki dan anak perempuan. Tetapi dalam percakapan sehari-hari biasa diartikan dengan anak laki-laki saja. Lahmun, menurut bahasa berarti daging termasuk di dalamnya segala macam daging, seperti daging binatang darat dan ikan. Tetapi dalam percakapan sehari-hari hanya berarti binatang darat saja tidak termasuk di dalamnya daging binatang air (ikan).
b. 'Urf amali
yaitu 'urf berupa perbuatan. Seperti jual beli mu’athah, yakni jual-beli tanpa mengucapkan shighat akad jual beli karena harga barang yang diperjualbelikan sudah dimaklumi bersama.
(2) ditinjau dari segi diterima atau tidaknya, 'urf terbagi kepada:
a. 'Urf shahih (benar)
yaitu kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang dan tidak bertentangan dengan syara'; tidak menghalalkan yang haram dan tidak membatalkan yang wajib. Seperti kebiasaan indent (pemesanan barang dengan pembayaran di muka sebagian harganya dan dibayar kemudian sepenuhnya bila barang yang dipesan telah tiba) dalam dunia perdagangan; kebiasaan memberikan sesuatu sebagai hadiah ketika melamar seorang wanita.
b. 'Urf asid (rusak)
yaitu kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang dan bertentangan dengan syara' karena menghalalkan yang haram dan membatalkan yang wajib. Seperti kebiasaan mengadakan sesajian untuk sebuah patung atau suatu tempat yang dipandang keramat. Hal ini tidak dibenarkan, karena berlawanan dengan ajaran tauhid yang diajarkan Islam.
(3) Ditinjau dari ruang lingkup berlakunya, 'urf terbagi kepada:
a. 'Urf 'âm
Yaitu 'urf yang disepakati oleh orang-orang di berbagai negeri, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Seperti mandi di pemandian umum dengan bayaran yang sama tanpa memperhitungkan lamanya mandi dan berapa banyak air yang terpakai.
b. 'Urf khash
yaitu 'urf tertentu yang hanya berlaku di suatu daerah tertentu atau sekompok masyarakat tertentu. Seperti kata daabah menurut kebiasaan orang Iraq artinya kuda.
Kedudukan 'Urf
Paraulama sepakat bahwa 'urf shahih dapat dijadikan dasar dalam menetapkan hukum yang berkaitan dengan mu’amalah dan  selama tidak bertentangan dengan syara'. Demikian pula ketika syariat menetapkan suatu ketentuan secara mutlak tanpa pembatasan dari nash itu sendiri maupun dari segi penggunaan bahasaSeperti ulama Malikiyah terkenal dengan pernyataan mereka bahwa amal ulama Madinah dapat dijadikan hujjah, demikian pula ulama Hanafiyah menyatakan bahwa pendapat ulama Kufah dapat dijadikan dasar hujjah. Imam Syafi'i terkenal dengan qaul qadim dan qaul jadidnya. Ada suatu kejadian tetapi beliau menetapkan hukum yang berbeda pada waktu beliau masih berada di Mekkah (qaul qadim) dengan setelah beliau berada di Mesir (qaul jadid). Hal ini menunjukkan bahwa ketiga madzhab itu berhujjah dengan 'urf shahih khash.
Atas dasar itulah para ahli ushul fiqih membuat Kaidah-kaidah yang berhubungan dengan 'urf, antara lain
a.
العَادَةُ مُحَكَّمَةٌ
"Adat kebiasaan itu dapat ditetapkan sebagai landasan hukum."
b.
لاَيُنْكَرُ تَغَيُّرُ الْحُكْمِ بِتَغَيُّرِ الأَمْكِنَةِ وَالأَزْمَانِ
"Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan hukum (berhuhungan) dengan perubahan tempat dan masa."
 
c.

كُلُّ مَا وَرَدَ بِهِ الشَّرْعُ مُطْلَقًا وَلاَظَابِطَ لَهُ فِيْهِ وَلاَ اللُّغَةَ يُرْجَعُ فِيْهِ إِلَى الْعُرْفِ

“Setiap ketentuan yang diterangkan oleh syara’ secara mutlak dan tidak ada pembatasnya dalam syara da tidak ada juga dalam ketentuan bahasa, maka ketentuan itu dikembalikan kepada ‘urf”

Untuk memahami kedudukan Urf kita belajar kepada Imam al-Bukhari
بَاب مَنْ أَجْرَى أَمْرَ الْأَمْصَارِ عَلَى مَا يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْ فِي الْبُيُوعِ وَالْإِجَارَةِ وَالْمِكْيَالِ وَالْوَزْنِ
Bab orang yang menjalankan/melaksanakan urusan berbagai kota berdasarkan ‘urfi di antara mereka, baik dalam bab-bab jual-beli, ijarah, al-mikyal, dan al-wazn.
Al-Mikyal ukuran isi atau benda dalam ruang. Dalam bahasa yang sederhana disebut takaran, sukatan, atau volume. Urfi dalam masalah mikyal dapat dilihat dari dua aspek
  1. Istilah yang digunakan berbeda-beda tergantung benda dan ukurannya. Perbedaan itu bukan hanya antar daerah, tetapi di satu daerah pun berbeda. Misalkan
  2. untuk benda padat
Adayang disebut
- bushel (busel) dan pint (piint) di Amerika,
- pint (paint) di Inggris.
- mud, sha’, wasq di Arab
- liter di kita .
  1. Untuk benda cair
Adayang disebut
  • pint, pallon (paelon), gallon (gaelan) di Amrik,
  • pint, gallon, ada di Inggris,
  • qullah di Arab,
  • liter, galon, barel di kita.
  • Terdapat perbedaan nilai atau ukuran dalam istilah-istilah itu tergantung kebiasaan suatu komunitas atau masyarakat tertentu. Perbedaan itu bukan hanya antar daerah, tetapi di satu daerah pun nilai ukurannya pun berbeda. Misalkan
  • untuk benda padat
  • di suatu masyarakat,
misalnya di Amrik 1 busel = 64 piint (=35,238 liter di kita).
Misalnya di Arab 1 sha’ = 4 mud (2,75 liter di kita). 1 wasaq = 60 mud (berapa liter, silahkan x 2,75 liter)
  1. perbandingan dengan masyarakat yang berbeda,
misalnya 1 paint Inggris = 1,2 piint Amreika (= 0,5683 liter dikita). Jadi istilahnya bisa sama, ternyata nilai atau ukurannya berbeda.
  1. untuk benda cair
  2.  di suatu masyarakat,
misalnya di Inggris 1 Paelon = 8 paint (=3,7853 liter di kita).
Misalnya di Indonesia 1 barel minyak tanah = 42 galon =  158,97 liter
  • perbandingan dengan masyarakat yang berbeda,
misalnya 1 galon Amrik = 0, 832 galon Inggris (= 3,785 liter dikita). Kalau 1 galon Inggris diliterkan apakah sama dengan 1 galon Amrik? Ternyata 4,546. Jadi istilahnya bisa sama, ternyata nilai atau ukurannya berbeda.
Yang jadi pertanyaan, siapa yang menetapkan nilai atau ukuran seperti itu, dan itu masih dalam ukuran isi, belum lagi dikonversi dengan ukuran berat?  Inilah salah satu contoh penggunaan kaidah al-‘adah muhakkmah (adat dapat ditetapkan sebagai landasan hukum). Dan seperti inilah yang dimaksud oleh al-Bukhari dengan  kalimat
عَلَى مَا يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْ فِي الْمِكْيَالِ
Al-Wazn ukuran berat. Dalam bahasa yang sederhana disebut timbangan. Urfi dalam masalah wazn sama dgn mikyal dapat dilihat dari dua aspek
  1. Istilah yang digunakan berbeda-beda tergantung benda dan ukurannya. Perbedaan itu bukan hanya antar daerah, tetapi di satu daerah pun berbeda. Misalkan di Inggris ada istilah pound, ton, and longton. Di kita ada ons, gram, kg, kwintal, ton.
  2. Terdapat perbedaan nilai atau ukuran dalam istilah-istilah itu tergantung kebiasaan suatu komunitas atau masyarakat tertentu. Perbedaan itu bukan hanya antar daerah, tetapi di satu daerah pun nilai ukurannya pun berbeda. Misalkan 1 pound = 16 ons = 0,4536 Kg.
Yang jadi pertanyaan, siapa yang menetapkan nilai atau ukuran seperti itu, dan itu masih dalam ukuran berat, belum lagi dikonversi dengan ukuran isi? Dan seperti inilah yang dimaksud oleh al-Bukhari dengan  kalimat
عَلَى مَا يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْ فِي الْوَزْنِ  
Kita coba terapkan kaidah tsb dalam contoh kasus ukuran zakat fitrah ketika Nabi menetapkan bahwa zakat fitrah itu sha-an min tha’amin. Kita ukur dengan mikyal, lalu kita coba konversi dengan wazan.
Dilihat dari klasifikasi urfi seperti yang dudah dijelaskan sebelumnya, dari bab ini kira-kira urfi yang mana yang hendak disorot oleh al-Bukhari?
 
 

Pembahasan

 
بَاب مَنْ أَجْرَى أَمْرَ الْأَمْصَارِ عَلَى مَا يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْ فِي الْبُيُوعِ وَالْإِجَارَةِ وَالْمِكْيَالِ وَالْوَزْنِ وَسُنَنِهِمْ عَلَى نِيَّاتِهِمْ وَمَذَاهِبِهِمُ الْمَشْهُورَةِ وَقَالَ شُرَيْحٌ لِلْغَزَّالِينَ سُنَّتُكُمْ بَيْنَكُمْ رِبْحًا وَقَالَ عَبْدُالْوَهَّابِ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدٍ لَا بَأْسَ الْعَشَرَةُ بِأَحَدَ عَشَرَ وَيَأْخُذُ لِلنَّفَقَةِ رِبْحًا وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِهِنْدٍ خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ وَقَالَ تَعَالَى ( وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ ) وَاكْتَرَى الْحَسَنُ مِنْ عَبْدِاللَّهِ بْنِ مِرْدَاسٍ حِمَارًا فَقَالَ بِكَمْ قَالَ بِدَانَقَيْنِ فَرَكِبَهُ ثُمَّ جَاءَ مَرَّةً أُخْرَى فَقَالَ الْحِمَارَ الْحِمَارَ فَرَكِبَهُ وَلَمْ يُشَارِطْهُ فَبَعَثَ إِلَيْهِ بِنِصْفِ دِرْهَمٍ
Syarah
بَاب مَنْ أَجْرَى أَمْرَ الْأَمْصَارِ عَلَى مَا يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْ فِي الْبُيُوعِ وَالْإِجَارَةِ وَالْمِكْيَالِ وَالْوَزْنِ
Bab orang yang menjalankan/melaksanakan urusan berbagai kota berdasarkan ‘urfi di antara mereka, baik dalam bab-bab jual-beli, ijarah, al-mikyal, dan al-wazn.
 
وَسُنَنِهِمْ عَلَى نِيَّاتِهِمْ وَمَذَاهِبِهِمُ الْمَشْهُورَةِ وَقَالَ شُرَيْحٌ لِلْغَزَّالِينَ سُنَّتُكُمْ بَيْنَكُمْ رِبْحًا وَقَالَ عَبْدُالْوَهَّابِ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدٍ لَا بَأْسَ الْعَشَرَةُ بِأَحَدَ عَشَرَ وَيَأْخُذُ لِلنَّفَقَةِ رِبْحًا وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِهِنْدٍ خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ
وَقَالَ تَعَالَى ( وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ ) – النساء : 6 -
dan barang siapa miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut
 وَاكْتَرَى الْحَسَنُ مِنْ عَبْدِاللَّهِ بْنِ مِرْدَاسٍ حِمَارًا فَقَالَ بِكَمْ قَالَ بِدَانَقَيْنِ فَرَكِبَهُ ثُمَّ جَاءَ مَرَّةً أُخْرَى فَقَالَ الْحِمَارَ الْحِمَارَ فَرَكِبَهُ وَلَمْ يُشَارِطْهُ فَبَعَثَ إِلَيْهِ بِنِصْفِ دِرْهَمٍ
al-Hasan (bin Yasar Abil Hasan atau yg populer dgn sebutan al-Hasan al-Bishri thabaqat ausatut tabi’in w. 110 H) pernah menyewa himar dari Abdullah bin Mirdas, maka al-hasan berkata, “Berapa biaya sewanya?” Ia menjawab, “Danaqaini”.
Keterangan: Danaq itu seperenam dirham, Danaqaini duaperenam dirham.  
 
Maka al Hasan menungganginya (hal ini menunjukkan bahwa al-Hasan setuju dengan harga sewa yg ditetapkan oleh Abdullah bin Mirdas). Singkat cerita al Hasan selesai menyewanya. Selang beberapa waktu kemudian, al Hasan datang lagi hendak menyewa kembali, maka ia berkata, “Athlubul himara, Saya menginginkan kembali himar itu (maksudnya: menyewa kembali), lalu ia menungganginya dan tidak mensyaratkannya (maksudnya: tdk bertanya lagi tentang harga sewa), lalu al Hasan membayar sewa kepadanya sebesar setengah dirham .
Dalam penyewaan kedua al-hasan tdk bertanya lagi tentang harga sewa karena berpegang kepada standar harga sebelumnya, yakni duaperenam dirham. Namun dalam penyewaan kedua ini ia membayar lebih tinggi dari harga semula sebagai fadhlun (kanyaah, kebaikan)
Riwayat ini dinukil oleh al Bukhari sebagai salah satu contoh guna memperkuat fiqih bab tentang
بَاب مَنْ أَجْرَى أَمْرَ الْأَمْصَارِ عَلَى مَا يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْ فِي الْإِجَارَةِ
Bab orang yang menjalankan/melaksanakan urusan berbagai kota/daerah berdasarkan ‘urfi di antara mereka, dalam masalah ijarah (jasa atau sewa-menyewa)
Setelah memuat beberapa contoh kasus, al Bukhari kemudian mengemukakan tiga hadis dalam bab tersebut sebagai landasan yuridis/hukum tentang kehujjahan/legalitas penggunaan urf dalam menetapkan hukum.
Pertama
2210 حَدَّثَنَا عَبْدُاللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ حُمَيْدٍ الطَّوِيلِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ حَجَمَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو طَيْبَةَ فَأَمَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَاعٍ مِنْ تَمْرٍ وَأَمَرَ أَهْلَهُ أَنْ يُخَفِّفُوا عَنْهُ مِنْ خَرَاجِهِ
Abdullah bin Yusuf: Penduduk Marwu w. 218
Malik bin Anas: Penduduk Madinah w. 179
Humed bin Abu Humed at-Thawil: penduduk Bashrah w. 142
Anas bin Malik: Penduduk Bashrah w. 91 H
 
Keterangan tempat
Marwu: Kota di Turkmenistan, sekarang bernama Mary
Bashrah: Salah satu kota Irak sekarang. Dibangun pada 636 M masa kekhalifahan Umar bin al-Khathab, dan berkembang pada masa Dinasti Abasiyah. Bashrah dan Kufah menjadi “lembaga” studi bahasa dan pusat kebudayaan, pada masa itu. (lihat, Lois Ma’luf, op.cit., hal. 129)
 
Artinya: Abu Thayyibah membekam Rasul, lalu Rasul memerintah kepada istrinya agar membayar satu sha tamar kepadanya. Dan juga memerintah kepada istrinya agar mengurangi kharaj darinya.
1 sha = 4 mud (2,75 liter)
Kharaj: pajak tanah atau semacam PBB pajak bumi dan bangunan di kita
Jizyah: pajak badan atau semacam
 
Keduanya ditetapkan bagi kafir harbi, yaitu kafir yang hidup didaerah kekuasaan Islam.
Hadis ini dimuat oleh al Bukhari sebagai dalil bahwa urfi sudah digunakan oleh Nabi dalam menetapkan standar harga sewa-menyewa atau jasa, yaitu beliau tdk mensyaratkan atau tdk bertanya lagi kepada pembekam tentang harga sewa karena berpegang kepada urfi (yaitu standar harga yang berlaku disana)
 
Kedua,
2211 حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ هِشَامٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهَا قَالَتْ هِنْدٌ أُمُّ مُعَاوِيَةَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ فَهَلْ عَلَيَّ جُنَاحٌ أَنْ آخُذَ مِنْ مَالِهِ سِرًّا قَالَ خُذِي أَنْتِ وَبَنُوكِ مَا يَكْفِيكِ بِالْمَعْرُوفِ
 
Abu Nuem: Namanya al Fadhl bin Duken bin Hammad, Penduduk Kufah w. 218
Sufyan: bin Sa’id bin Masruq, populer dgn sebutan Sufyan at-Tsauri, Penduduk Bashrah w. 161
Hisyam bin Urwah: penduduk Madinah, wafat di Baghdad th 145
Urwah bin Zuber: Penduduk Madinah w. 93 H
Aisyah: Penduduk Madinah w. 58 H
 
Keterangan Tempat
- Kufah Kota di Irak yang dibangun oleh Sa’ad bin Abu Waqas setelah perang al-Qadisiyyah dekat kota Herat (Afganistan) pada 638 M. Pada masa Dinasti Abasiyah, kota ini ditetapan sebagai ibu kota Irak pada 749 M, sebelum Baghdad dibangun. (Lihat, Lois Ma’luf, op.cit. hal. 475)
 
 
Artinya: Hindun Ummu Muawiyah berkata kepada Rasulullah, “Sesunguhnya Abu Sufyan (suaminya) seorang laki-laki yang bakhil (syahih: keked mengkene, meregehese), apakah saya tdk berdosa bila mengambil hartanya secara sembunyi?” Nabi bersabda, “Ambillah olehmu dan anak-anakmu apa yang dapat mencukupi dengan ma’ruf.
 
Hadis ini dimuat oleh al Bukhari sebagai dalil bahwa urfi sudah digunakan oleh Nabi dalam menetapkan ukuran nafaqah, yaitu beliau menghalalkan bagi Hindun sesuai dgn urfi (yaitu standar biaya hidup/kebutuhan pokok sehari-hari yang berlaku waktu itu)
 
Ketiga,
2212 حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ أَخْبَرَنَا هِشَامٌ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ سَلَّامٍ قَالَ سَمِعْتُ عُثْمَانَ بْنَ فَرْقَدٍ قَالَ سَمِعْتُ هِشَامَ بْنَ عُرْوَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهَا تَقُولُ ( وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ ) أُنْزِلَتْ فِي وَالِي الْيَتِيمِ الَّذِي يُقِيمُ عَلَيْهِ وَيُصْلِحُ فِي مَالِهِ إِنْ كَانَ فَقِيرًا أَكَلَ مِنْهُ بِالْمَعْرُوفِ *
Ishaq bin Mashur: Penduduk Himsha wafat di Nahawandu, th 251
Abdullah bin Numer: Penduduk Kufah w. 199
ح : kode tahwil, artinya hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari melalui dua jalan
Jalan pertama melalui Ishaq, dari Ibnu Numer
Kedua melalui
Muhamad bin Salam: Penduduk Himsha, w. 227
Usman bin Farqad: Penduduk Bahrah, w. ?
 
Ibnu Numer dan Usman, menerima dari
Hisyam bin Urwah: penduduk Madinah, wafat di Baghdad th 145
Urwah bin Zuber: Penduduk Madinah w. 93 H
Aisyah: Penduduk Madinah w. 58 H
 
Keterangan tempat
- Himsh adalah negeri yang terkenal di Syam (lihat, Ibn al-Atsir, op.cit.,I:264) Dan sekarang menjadi salah satu kota di Suriah, terletak antara Damaskus dan Hamah (Lihat, Lois Ma’luf, op.cit. hal. 225; Internatonal World Atlas, op.cit., hal. 44)
 
Artinya: tentang firman Allah
 (وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ ) – النساء : 6 -
Artinya: Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia  menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut
 
Menurut Aisyah ayat ini diturunkan  pada wali yatim yang bertanggungjawab mengurusnya dan membereskan hartanya, baik konsumtif (keperluan sehari-hari) maupun produktif (dikembangkan supaya tidak habis, bisa dalam bentuk modal usaha atau investasi), jika si wali itu miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut urfi, misalkan standar harga jasa atau upah yang berlaku.
 
Dari berbagai contoh kasus dan dalil-dalil di atas, saya berkesimpulan bahwa kehujjahan urf atau 'adat menurut imam al-Bukhari pada persoalan mu'amalah. Dan beliau pun menggunakan  Kaidah-kaidah yang berhubungan dengan 'urf, antara lain
a.
العَادَةُ مُحَكَّمَةٌ
"Adat kebiasaan itu dapat ditetapkan sebagai landasan hukum."
b.
لاَيُنْكَرُ تَغَيُّرُ الْحُكْمِ بِتَغَيُّرِ الأَمْكِنَةِ وَالأَزْمَانِ
"Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan hukum (berhuhungan) dengan perubahan tempat dan masa."
 
c.

كُلُّ مَا وَرَدَ بِهِ الشَّرْعُ مُطْلَقًا وَلاَظَابِطَ لَهُ فِيْهِ وَلاَ اللُّغَةَ يُرْجَعُ فِيْهِ إِلَى الْعُرْفِ

“Setiap ketentuan yang diterangkan oleh syara’ secara mutlak dan tidak ada pembatasnya dalam syara da tidak ada juga dalam ketentuan bahasa, maka ketentuan itu dikembalikan kepada ‘urf”
 
 
Dalam persoalan mu’amalah.
Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Rabu, 16 Februari 11 - 06:26 WIB
Dalam Kategori : AGAMA, PENGETAHUAN
Dibaca sebanyak : 4215 Kali
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback