Cara Shalat Berjamaah Menurut Rasulullah

Cara Shalat Berjamaah Menurut Rasulullah
Cara Shalat Berjamaah Menurut Rasulullah
 
Bagi umat Islam Rasulullah saw. merupakan figur penting terutama jika dikaitkan dengan masalah ibadah. Sandarah hukum masalah ibadah harus jelas. Sumber-sumber pengambilan dasar hukummya harus diambil dari apa yang ada dalam al-Qur’an dan yang disampaikan Rasulullah saw. dalam hadisnya. Khusus masalah ibadah shalat, Rasulullah saw. menegaskan salatlah kamu semua sebagaimana kamu melihat aku salat. Oleh karena itu, informasi masalah hal-hal yang terkait erat dengan salat harus bersumber dari Rasulullah saw. Dalam persoalan ini, terdapat kaidah yang disusun oleh ulama usul fiqh yaitu الأصل فى العبادة  التحريم حتى يدل الدليل على الإباحة .  
Artikel ini akan membahas tentang tuntunan Rasulullah saw. tentang shalat berjamaah dengan disertai penilaian atas hadis-hadis yang dijadikan hujjah. Tujuan tidak lain adalah kemantapan dalam beribadah karena sandaran hukummnya jelas dan tidak dipermasalahkan lagi.
II. Anjuran Shalat Berjamaah dan Hal lain yang Terkait
Berusahalah kamu mengerjakan shalat-shalat fardhu dengan berjamaah di masjid, di musholla atau lainnya. Dan jangan tergesa-gesa mendatangi shalat jamaah hingga selesai keperluanmu. Dan apabila shalat telah diqomatkan, maka pergilah mendatanginya dengan tenang. Hal tersebut didasarkan dengan dalil:
One.    Dirikanlah shalat
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku. (QS. al-Baqarah [2]: 43).
Two.    Bila bersama orang lain, shalatlah secara berjamaah
وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ
Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu. (QS. al-Nisa' [4]: 102).
Three.    Shalat berjamaah itu keutamaannya melebihi 27 derajat dibanding shalat sendirian
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
Rasulullah saw bersabda, "Shalat Jamaah itu melebihi keutamaan shalat sendirian, dengan duapuluh tujuh derajat". (Hadis Riwayat Bukhari, Muslim, Tirmidzi, lbn Majah, Ahmad ibn Hanbal dan Malik dari 'Abdullah ibn 'Umar dengan lafal riwayat Bukhari).
Sanad hadis ini berkualitas sahih, dan dapat dipakai sebagai hujjah.
Four.    Ingin rasanya Rasulullah membakar rumah orang yang tidak ikut jamaah shalat Subuh dan 'lsya'.
Rasulullah saw bersabda, "Shalat yang terberat bagi orang-orang munafik ialah shalat 'lsyak dan shalat fajar. Padahal apabila mereka mengerti akan keutamaan kedua shalat tersebut, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. Mau aku rasanya menyuruh orang qomat untuk shalat lalu aku menyuruh seorang menjadi imam bersama-sama shalat dengan orang banyak. Kemudian aku pergi bersama-sama dengan beberapa orang yang membawa beberapa ikat kayu bakar, untuk mendatangi mereka yang tidak ikut shalat dan membakar rumah-rumah mereka". (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim dan Abu Hurairah, lafal riwayat Muslim).
Sanad hadis ini berkualitas sahih dan dapat digunakan sebagai hujjah.
Five.    Bila ada tiga orang,  dan tidak mau shalat secara berjamaah,  maka ketiganya dikuasai syetan.
Rasulullah saw bersabda, "Tiap-tiap ada tiga orang di suatu kampung yang tidak mau adzan dan tidak mau mengadakan shalat (jamaah), tentulah ketiganya dikuasai oleh syaitan". (Hadis Riwayat Ahmad ibn Hanbal, Nasaiy dan Abu dawud dari Abu Darda').
Hadis ini berkualitas sahih dan dapat dipergunakan sebagai hujjah.
f. Orang buta sekalipun agar ikut jamaah ke Masjid
Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, “Seorang laki-laki buta datang kepada Nabi saw sambil berkata, “Ya Rasulullah, Tidak ada orang yang menuntunku untuk pergi ke masjid. Dia meminta kepada Rasulullah saw agar memberi keringanan kepadanya,  agar ia diperbolehkan untuk shalat di rumahnya, maka Rasulullah memberi keringan kepadanya. Akan tetapi setelah orang tersebut pergi, tiba-tiba Rasulullah memanggilnya seraya bertanya, “Adakah kamu mendengar panggilan (adzan)?”. Orang itu menjawab, “Ya”. Lalu Rasulullah bersabda, “Penuhilah panggilan itu”.
Hadis ini diriwayatkan oleh imam Muslim dan al-Nasaiy.  Hadis ini berkualitas sahih dan sah digunakan sebagai hujjah.
g. Para wanita juga ikut shalat berjamaah di masjid Nabi
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِي تَسْلِيمَهُ وَيَمْكُثُ هُوَ فِي مَقَامِهِ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ قَالَ نَرَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ ذَلِكَ كَانَ لِكَيْ يَنْصَرِفَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ أَحَدٌ مِنْ الرِّجَالِ
Dari Ummu Salamah ra, ia berkata, “Rasulullah saw jika telah selesai salam, para wanita segera berdiri (meninggalkan masjid) setelah menyelesaikan salamnya, sedangkan beliau tetap tinggal di tempat duduknya sebentar sebelum beliau berdiri”. (Ibn Syihab al-Zuhri) berkata, kami berpendapat –Hanya Allah yang mengetahui- bahwa Rasulullah tetap di tempatnya adalah agar para wanita pulang terlebih dahulu sebelum dijumpai oleh orang laki-laki”.
Teks hadis ini adalah teks yang paling dekat dengan yang dinukilkan dalam HPT, sebab teks yang persis sebagaimana yang terdapat dalam HPT tidak kami ketemukan. Teks dalam HPT tersebut artinya adalah sebagai berikut:
Dari Ummu Salamah, ia berkata, “Adalah Rasulullah saw apabila telah salam, tetap di tempatnya sebentar. Kami berpendapat –Hanya Allah yang mengetahui- bahwa Rasulullah tetap di tempatnya itu agar para wanita pulang lebih dahulu, jangan sampai tersusul oleh orang-orang lelaki”.
Hadis ini berkualitas sahih dan sah dipakai sebagai hujjah.
h. Para wanita juga diperbolehkan untuk sholat berjamaah di mushalla khusus untuk wanita. Hal ini berdasar pada keputusan Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam kitab “Beberapa Masalah” tentang sahnya wakaf masjid yang khusus bagi orang-orang perempuan, dan bahwa wakaf itu tidak dinamakan masjid tetapi dinamakan mushalla”.  
a.    Bila tengah makan, jangan tergesa-gesa mendatangi shalat jamaah, tetapi selesaikan dahulu makannya.
عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ عَلَى الطَّعَامِ فَلَا يَعْجَلْ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ وَإِنْ أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ
Ibn ‘Umar ra berkata, bahwa Nabi saw bersabda, “Apabila salah seorang dari kamu tengah makan, maka janganlah tergesa-gesa hingga selesai makan, meskipun shalat sudah diqamatkan”.
Hadis ini berkualitsa sahih dan sah dipakai sebagai hujjah.
Six.    jangan shalat ketika telah dihidangkan makanan, dan jangan shalat dengan menahan hasrat berhadas.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, Aku mendengar Nabi saw bersabda, “jangan shalat ketika dihidangkan makanan, dan jangan shalat dengan menahan hasrat berhadas”
Hadis ini sahih dan dapat dipakai sebagai hujjah.
Ten.    Bila telah mendengar iqamat, datangilah shalat jamaah dengan tenang

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw bersabda, “Apabila kamu telah mendengar qamat, maka berjalanlah mendatangi shalat jama’ah, dan hendaknya engkau berjalan dengan tenang dan tenteram, dan janganlah terburu-buru. Apabila kamu dapat menyusul, shalatlah mengikuti imam, sedang yang sudah tertinggal, maka sempurnakanlah”.
Hadis ini berkualitas sahih dan dapat dipakai sebagai hujjah.

III. Mengangkat Imam
    Tuntunan Rasulullah saw. dalam hal mengangkat imam adalah sebagai berikut:
One.    Dan hendaklah salah seorang dari kamu menjadi imam
Two.    Bila ada tiga orang, hendaklah salah satu menjadi imam
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانُوا ثَلَاثَةً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَحَدُهُمْ وَأَحَقُّهُمْ بِالْإِمَامَةِ أَقْرَؤُهُمْ
Dari Abu Sa’id al-Khudriy, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apabila genap tiga orang hendaklah salah seorang di antara mereka menjadi imam, dan yang lebih berhak menjadi imam adalah yang lebih ahli membaca Qur’an”.
Hadis ini berkualitas sahih dan dapat dipakai sebagai hujjah.
Three.    Hendaklah yang menjadi imam adalah orang yang paling ahli membaca Al-Qur’an
Dari Abi Mas’ud al-Anshariy berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah menjadi imam pada suatu kaum, orang yang lebih ahli membaca Qur’an; jika dalam hal ini mereka bersamaan, maka yang lebih mahir dalam hal sunnah (hadis); Apabila dalam hal inipun mereka bersamaan juga, maka yang lebih dahulu mengikuti hijrah, kalau dalam hal itu mereka bersamaan juga, maka yang lebih dahulu islamnya”  
Hadis ini berkualitas sahih.
d. Boleh juga kamu mengangkat imam seorang buta atau hamba sahaya.
Nabi pernah dua kali menguasakan kota Madinah kepada Ibn Ummi Maktum yang buta, dan mengimami penduduk Madinah
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَخْلَفَ ابْنَ أُمِّ مَكْتُومٍ عَلَى الْمَدِينَةِ مَرَّتَيْنِ يُصَلِّي بِهِمْ وَهُوَ أَعْمَى
Dari Anas, bahwa Nabi saw menguasakan kepada Ibn Ummi Maktum atas Madinah dua kali, mengimami mereka (pemduduk Madinah) padahal ia buta.
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan Ahmad ibn Hanbal. Para rawi dalam jalur sanad Ahmad adalah: Anas ibn Malik – Qatadah – ‘Imran ibn Dawar Abu al-‘Awwam al-Qaththan – Bahz ibn Asad – Ahmad ibn Hanbal. Mereka adalah orang siqah dan sanadnya bersambung. Hadis ini berkualitas sahih dan dapat dipakai sebagai hujjah.
Ketika orang Muhajirin sampai di Quba sebelum kedatangan Nabi, yang mengimami mereka adalah Salim hamba sahaya Abu Hudzaifah
Dari Ibn ‘Umar, ia berkata, “Ketika orang-orang Muhajirin yang pertama-tama sampai di ‘Ushbah  (yaitu suatu tempat di Quba), sebelum kedatangan Nabi saw, yang mengimami mereka adalah Salim hamba sahaya Abu Hudzaifah, karena dialah yang lebih banyak pengertiannya tentang Qur’an”. Al-Haitsam (salah seorang rawi hadis ini) menambahkan, “padahal di tengah-tengah mereka terdapat juga Umar ibn al-Khaththab dan Abu Salamah ibn ‘Abdul Asad” (Lafal Abu Dawud).
Kualitas hadis ini adalah sahih dan sah sebagai hujjah.

IV. Tata Cara Sholat Berjamaah
A. Posisi Makmum
One.    Makmum yang hanya seorang saja supaya berdiri di sebelah kanan imamnya, sedang apabila dua orang atau lebih supaya di belakang imam. Hal ini berdasar pada hadis nabi:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الْمَغْرِبَ فَجِئْتُ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ عَنْ يَسَارِهِ فَنَهَانِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ فَجَاءَ صَاحِبٌ لِي فَصَفَفْنَا خَلْفَهُ
Jabir ibn Abdullah berkata, "Pada suatu ketika Nabi saw shalat Maghrib, saya datang lalu  berdiri di sebelah kirinya, maka beliau mencegah aku dan menjadikan aku di sebelah kanannya; kemudian datang temanku, maka kami berbaris di belakangnya".
Ibn Khuzaimah memasukkan hadis ini dalam kumpulan hadis-hadis sahih. Akan tetapi bukan berarti bahwa hadis ini telah disepakati kesahihannya. Dalam sanad hadis ini, baik dalam jalur Ahmad, Ibn Majah maupun ibn Khuzaimah, terdapat Syurahbil ibn Sa'ad. Syurahbil ini dinilai dengan penilaian yang berbeda oleh para ulama. Ibn Hibban menganggapnya sebagai rawi yang siqqah, sedangkan ibn Ma'in, Nasai dan Daruqutniy menilainya sebagai rawi yang da’if. Malik ibn Anas menilainya sebagai rawi yang tidak siqqah. Abu Zur'ah menilainya sebagai rawi yang lembek. Ibn Sa'ad menilainya sebagai rawi yang riwayatnya tidak bisa dipakai sebagai hujjah. Abdullah ibn 'Adi al-Jurjani setelah menganalisis kemudian menyimpulkan bahwa Syurahbil ini lebih dekat sebagai rawi yang da’if . Pendapat ibn 'Adi ini juga dipakai sebagai kesimpulan oleh adz-Dzahabi . Penulis lebih cenderung mengatakan bahwa hadis ini da’if, mengingat bahwa Ibn Khuzaimah dikenal sebagai rawi yang tasahul (longgar) dalam mensahihkan hadis.
Meskipun hadis ini da’if, bukan berarti makmum yang hanya seorang kemudian tidak berdiri di sebelah kanannya, mengingat ada hadis lain yang diriwayatkan dari Abdullah ibn 'Abbas berikut ini:

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ صَلَّيْتُ إِلَى جَنْبِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَائِشَةُ خَلْفَنَا تُصَلِّي مَعَنَا وَأَنَا إِلَى جَنْبِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُصَلِّي مَعَهُ
Ibn 'Abbas ra berkata, "Saya shalat di samping Nabi saw, sedang 'Aisyah bersama kami, dia shalat di belakang kami dan aku di sisi Nabi saw".

Hadis ini berkualitas sahih dan dapat dipakai sebagai hujjah.
Dan hadis lainnya, yaitu:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَأْسِي مِنْ وَرَائِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ
Ibn 'Abbas berkata, "Pada suatu malam, aku shalat beserta Nabi. Aku berdiri di sebelah kirinya, kemudian Rasulullah saw memegang kepalaku dari belakangku dan menempatkanku di sebelah kanannya". (lafal Tirmidzi)
Hadis ini berkualitas sahih dan dapat dipakai sebagai hujjah.

4. Dan hendaklah kamu meluruskan barisanmu serta merapatkan diri. Imam supaya menganjurkan kepada para makmum untuk meluruskan barisan dan merapatkannya.
Ada dua hadis yang dipakai sebagai dalil:
a. Hadis dari Anas ibn Malik:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ
Dari Anas  ibn Malik, bahwa Nabi saw bersabda, "Ratakanlah shafmu karena meratakan shaf itu termasuk sebagian dari kesempurnaan shalat".
Kualitas hadis ini adalah sahih sehingga dapat dipergunakan sebagai dalil.

b. Hadis juga dari Anas ibn Malik:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ قَبْلَ أَنْ يُكَبِّرَ فَيَقُولُ تَرَاصُّوا وَاعْتَدِلُوا فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي
Anas berkata, "Rasulullah saw menghadapkan mukanya kepada kami sebelum bertakbir seraya bersabda, "Rapatkan dan luruskanlah shafmu, karena sesungguhnya aku melihatmu sekalian lewat belakang pungungku" ". (lafal Ahmad).  
Kualitas hadis ini sahih dan sah dipakai sebagai hujjah.

5. Penuhilah shaf yang pertama lebih dahulu, kemudian shaf berikutnya.
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتِمُّوا الصَّفَّ الْأَوَّلَ ثُمَّ الَّذِي يَلِيهِ وَإِنْ كَانَ نَقْصٌ فَلْيَكُنْ فِي الصَّفِّ الْمُؤَخَّرِ
Dari Anas, bahwa Rasulullah saw bersabda, "Penuhilah lebih dahulu shaf yang pertama, kemudian shaf yang berikutnya. Hendaklah shaf yang tidak penuh itu shaf yang di belakang”.
Kualitas hadis ini adalah sahih dan sah dipakai sebagai hujjah.

6. Dan isilah shaf yang terluang.
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوُّوا صُفُوفَكُمْ وَحَاذُوا بَيْنَ مَنَاكِبِكُمْ وَلِينُوا فِي أَيْدِي إِخْوَانِكُمْ وَسُدُّوا الْخَلَلَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ بَيْنَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْحَذَفِ يَعْنِي أَوْلَادَ الضَّأْنِ الصِّغَارَ

Dari  Abu Umamah,  bahwa  Rasulullah saw bersabda,  "Ratakanlah shafmu, luruskanlah di antara bahumu dan berlunak-lunaklah di samping saudaramu. Dan penuhilah tempat yang terluang, sebab syetan itu masuk di antaramu sebagaimana halnya anak kambing".

Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad ibn Hanbal. Hadis ini berkualitas da’if karena dalam sanadnya melawati Farj ibn Fadhalah ibn al-Nu'man. la dijarh banyak ulama hadis. Yahya ibn Ma'in menyatakannya sebagai da’if. Aliy ibn al-Madiniy mengomentarinya sebagai tidak kokoh.  Bukhari  dan Muslim menyatakannya sebagai munkar al-hadis. Sedangkan Abu hatim al-Razi menyatakan bahwa riwayatnya tidak bisa dipakai sebagai hujjah.

Akan tetapi terdapat hadis yang hampir mirip dengan hadis di atas, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh 'Abdullah ibn 'Umar sebagai berikut:

Dan Abdullah ibn Umar bahwa Rasulullah saw bersabda, "Tegakkanlah shaf, karena engkau bershaf dengan shaf-shafnya malaikat. Rapatkan di antara bahu. Penuhilah tempat yang terluang. Dan berlunak-lunaklah di samping saudaramu. Janganlah engkau sisakan celah untuk syetan. Barang siapa yang menyambung shaf, maka Allah akan menyambungkannya. Dan barang siapa memotong shaf, maka Allah akan memotongnya".

Sanad Hadis ini berkualitas sahih dan dapat dipakai sebagai hujjah.

7. Shaf untuk wanita letaknya di belakang shaf untuk kaum pria.
Ada dua hadis sebagai dalil:
a. Hadis dan Ibn 'Abbas:
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ صَلَّيْتُ إِلَى جَنْبِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَائِشَةُ خَلْفَنَا تُصَلِّي مَعَنَا وَأَنَا إِلَى جَنْبِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُصَلِّي مَعَهُ
Ibn 'Abbas ra berkata, "Saya shalat di samping Nabi saw, sedang 'Aisyah bersama kami, dia shalat di belakang kami dan aku di sisi Nabi saw".
Hadis ini berkualitas sahih dan dapat dipakai sebagai hujjah.

b. Hadis dari Anas:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ صَلَّيْتُ أَنَا وَيَتِيمٌ فِي بَيْتِنَا خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمِّي أُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا
Anas ibn Malik berkata, "Saya shalat bersama-sama anak yatim di rumah kami di belakang Nabi saw, sedang ibuku Ummu Sulaim di belakang kami".
Kualitas hadis ini adalah sahih dan sah dipakai sebagai hujjah.

B. Makmum Mengikuti Imam
Kemudian apabila imam telah bertakbir, maka bertakbirlah kamu, dan janganlah bertakbir hingga imam selesai dari takbirnya. Begitu juga dalam segala pekerjaan shalat dan jangan sekali-kali mendahului imam.
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sungguh imam itu diangkat untuk diikuti. Oleh karenanya apabila ia bertakbir, maka takbirlah kamu dan janganlah kamu bertakbir hingga ia bertakbir. Dan apabila ia telah ruku’, maka ruku’lah kamu, dan jangan kamu ruku’ hingga ia ruku’. Dan apabila ia telah bersujud, maka bersujudlah kamu, dan janganlah kamu bersujud sehingga ia bersujud”.
Hadis dalil HPT ini jika dirujukkan ke teks dalam kitab Sunan Abu Dawud kurang lafal berikut ini dalam penukilannya.
وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ قَالَ مُسْلِمٌ وَلَكَ الْحَمْدُ... وَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا أَجْمَعُونَ
Dan jika ia membaca “sami’alla>hu liman h}amidah”, maka bacalah “Alla-humma rabbana- lakal hamd” (menurut Muslim “wa lakal hamd”) … Dan jika shalat dengan berdiri, maka shalatlah dengan berdiri, dan jika shalat dengan duduk, maka shalatlah dengan duduk semuanya.
Dan juga karena hadis:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي إِمَامُكُمْ فَلَا تَسْبِقُونِي بِالرُّكُوعِ وَلَا بِالسُّجُودِ وَلَا بِالْقِيَامِ وَلَا بِالِانْصِرَافِ
Anas berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Wahai saudara-saudaraku, aku ini adalah imam kamu sekalian. Oleh karena itu sanganlah kamu mendahului akan daku dalam ruku’, sujud, berdiri, duduk dan dalam mengakhiri shalat”.
Hadis ini berkualitas sahih.

C. Imam Jangan Panjang-Panjang Bacaannya
Seorang imam jangan panjang-panjang bacaannya.
Anas ibn Malik berkata, “Adalah Muadz ibn jabal mengimami kaumnya, dimana si Haram yang bermaksud hendak menyiram pohon kurmanya, lebih dahulu masuk masjid bersama-sama kaumnya. Setelah ia melihat Mu’adz memanjangkan bacaannya, maka iapun mempercepat shalatnya dan mendatangi pohon kurmanya untuk menyiramnya. Setelah Mu’adz selesai mengerjakan shalatnya, halnya si Haram itu disampaikan kepadanya. Maka Mu’adzpun berkata bahwa ia seorang munafik “Adakah ia mempercepat shalat hanya karena akan menyiram pohon kurmanya?”.
Anas melanjutkan, “Maka si Harampun menghadap Nabi saw dan ketika itu Muadzpun berada di dekat Nabi. Maka Haram berkata, “Wahai Nabi Allah, aku bermaksud hendak menyiram pohon kurmaku, maka aku masuk masjid untuk shalat berjamaah. Setelah kujumpai Mu’adz yang menjadi imam memanjangkan bacaan Qur’annya, aku lalu mempercepat shalatku dan setelah selesai aku menengok pohon kurmaku untuk menyiramnya. Tiba-tiba Muadz itu menuduh aku seorang munafik. Maka Nabi lalu memandang kepada Muadz seraya sabdanya, “Adakah engkau menjadi tukang fitnah? Adakah engkau menjadi tukang fitnah? Janganlah kamu perpanjang membaca surat Qur’an di waktu menjadi imam orang banyak. Bacalah surat “Sabbihisma rabbikal a’la-“ dan “Wasy syamsi Wadhuha-ha-“ atau surat yang sesamanya.
Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad ibn Hanbal dalam kitab Musnadnya, bab Baqiy Musnad al-Muksirin, no. 11799 dengan sanad hadis berkualitas sahih.

D. Makmum Agar Memperhatikan Bacaan Imam
Hendaklah kamu memperhatikan dengan tenang bacaan imam apabila keras bacaannya, maka janganlah kamu membaca sesuatu selain surat Fatihah.
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
Rasulullah saw bersabda, “Tidak sah shalatnya orang yang tidak membaca permulaan Kitab (Fatihah)”
Hadis ini berkualitas sahih.
Dan berdasar pada hadis berikut:
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصُّبْحَ فَثَقُلَتْ عَلَيْهِ الْقِرَاءَةُ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ إِنِّي أَرَاكُمْ تَقْرَءُونَ وَرَاءَ إِمَامِكُمْ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِي وَاللَّهِ قَالَ فَلَا تَفْعَلُوا إِلَّا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَإِنَّهُ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِهَا
Bahwa Rasulullah saw shalat Subuh, beliau merasa terganggu oleh pembacaan makmum. Setelah selesai, beliau bersabda, “Aku melihat kamu membaca di belakang imammu?”. Kata Ubadah, kami semua menjawab, “Ya Rasulullah, demi Allah benar begitu”. Maka sabda Nabi, “Janganlah kamu mengerjakan demikian kecuali bacaan Fatihah”.

Hadis ini dinilai hasan oleh al-Tirmizi, al-Daruquthni, Ali ibn Abu Bakar al-Haitsami  dan Abu  Abdullah al-Muqaddasi  Akan tetapi hadis ini juga dinilai sebagai hadis sahih oleh Ibn Hibban dan al-Hakim. Meskipun ada perbedaan dalam menilai kualitas hadis ini, tetapi perbedaannya hanya dua alternatif, yaitu sahih atau hasan. Baik hadis sahih ataupun hadis hasan keduanya dapat dipakai sebagai dasar dalam berhujjah.

Dan juga berdasar pada hadis berikut:
قَالَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَ تَقْرَءُونَ خَلْفَ الْإِمَامِ وَالْإِمَامُ يَقْرَأُ قَالُوا نَعَمْ قَالَ فَلَا تَفْعَلُوا إِلَّا أَنْ يَقْرَأَ أَحَدُكُمْ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ فِي نَفْسِهِ
“Rasulullah saw bersabda, “Apakah kamu sekalian membaca dalam shalatmu di belakang imammu, padahal imam sedang membaca?. Janganlah kamu mengerjakannya, hendaklah masing-masing kamu membaca Fatihah sekedar didengar olehnya sendiri”.
Menurut penilaian Ibn Hibban hadis ini berkualitas sahih. Pendapat ini juga didukung oleh al-Mubarakfuriy yang menyatakan bahwa hadis ini adalah mahfudz  

E. Membaca Basmalah dengan Keras atau Lirih
Di tengah masyarakat telah terjadi perbedaan cara imam dalam membaca basmalah tersebut, apakah dibaca keras ataukah cukup dalam hati. Berikut ini kami kemukakan hadis-hadis tentang masalah tersebut.

1.    Tidak terdengar Rasulullah membaca basmalah (mungkin membacanya dalam hati)
a). Hadis dari Anas
عَنْ أَنَسٍ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Anas berkata, “Aku telah melaksanakan shalat bersama Rasulullah, Abu Bakar, Umar, dan Usman, dan belum pernah aku mendengar masing-masing mereka membaca “bismilla-hirrokhma-nirrokhi-m”
Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim (Sahih, al-Shalat: 605). Hadis ini berkualitas sahih.
b). Hadis dari Anas ibn Malik
Anas ibn Malik berkata, “Aku telah melaksanakan shalat di belakang nabi, dan Abu Bakar, dan Umar, dan Usman. Mereka semuanya memulai dengan “alhamdu lilla-hi robbil ‘a-lami-n”, tidak membaca “bismilla-hirrokhma-nirrokhi-m”.
Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim (Sahih, al-Shalat: 606). Hadis ini berkualitas sahih.
c). Hadis dari Abdullah ibn al-Mughaffal
Ibn Abdullah ibn Mughaffal berkata, “Ayahku memperdengarkan kepadaku ketika aku di dalam sholat membaca “bismilla-hirrokhma-nirrikhi-m”, maka ia berkata kepadaku,”anakk  itu muhdats (hal baru/ bid’ah). Jauhilah olehmu hal-hal yang diada-adakan (bid’ah). Ia berkata, “Aku belum pernah melihat kebencian para sahabat Rasulullah melebihi kebenciannya terhadap hal-hal yang diada-adakan (bid’ah) dalam Islam. Dan aku telah shalat bersama dengan Nabi saw, dan bersama Abu Bakar, dan bersama Umar, dan bersama Usman. Dan belum pernah aku mendengar salah seorang dari mereka membacanya (bismilla-hirrokhma-nirrokhi-m). Oleh karena itu janganlah engkau membacanya. Dan jika engkau shalat bacalah dengan “al-hamdu lilla-hi robbil ‘a-lami-n”.
Menurut Abu ‘Isa al-Tirmizi, hadis ini berkualitas hasan. Kandungan hadis ini, menurut al-Tirmizi, diamalkan oleh para sahabat nabi seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan sebagainya. Dan juga diamalkan oleh para ulama tabi’in. Menurut  Sufyan al-Tsauri, ibn al-Mubarak, Ahmad dan Ishak, mereka tidak membaca basmalah secara keras, melainkan membacanya dalam hati.
d). Hadis dari Anas ibn Malik
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُسْمِعْنَا قِرَاءَةَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ وَصَلَّى بِنَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَلَمْ نَسْمَعْهَا مِنْهُمَا
Anas ibn Malik berkata, “telah shalat bersama kami Rasulullah saw, dan beliau tidak memperdengarkan bacaan “bismilla-hirrohma-nirrohi-m”. Dan telah sholat pula bersama kami Abu Bakar dan Umar, dan keduanya juga tidak memperdengarkan bacaan tersebut”.
Hadis ini diriwayatkan oleh Nasaiy (Sunan, al-Iftitah: 896). Hadis ini munqathi’  karena dalam sanadnya Manshur ibn Zadzan tidak bertemu dengan Anas ibn Malik. Hadis ini da’if.
e). Hadis dari Anas
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الْقِرَاءَةَ بِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Dari Anas bahwa Nabi saw dan Abu Bakar dan ‘Umar dan Usman, semuanya memulai bacaannya dengan “al-hamdu lilla-hi robbil ‘a-lami-n”.
Hadis ini berkualitas sahih.
Two.    Rasulullah tidak mengeraskan bacaan basmalah
1) Hadis dari Anas
عَنْ أَنَسٍ قَالَ صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَجْهَرُ بِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Anas berkata, “Aku telah shalat di belakang Rasulullah saw, dan Abu Bakar, dan Umar dan Usman, dan tidak pernah aku dengar salah seorang dari mereka yang mengeraskan bacaan “bismilla-hirrohma-nirrohi-m”.
Hadis ini berkualitas sahih.
c. Rasulullah mengeraskan bacaan basmalah
1) Hadis dari Abdullah ibn ‘Abbas
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْتَتِحُ صَلَاتَهُ بْ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Abdullah ibn ‘Abbas berkata, “Bahwa Rasulullah saw memulai bacaan shalatnya dengan “bismilla-hirrohma-nirrohi-m”.
Abu ‘Isa al-Tirmizi menyatakan bahwa hadis ini tidak ada masalah dalam sanadnya. Menurutnya, sebagian sahabat telah melaksanakan hadis ini, diantaranya adalah Abu hurairah, ‘Abdullah ibn ‘Umar, ‘Abdullah ibn ‘Abbas, dan ‘Abdullah ibn al-Zubair. Pendapat ini juga dipegangi oleh imam al-Syafi’i.
Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzi (Sunan, al-Shalat: 228)
2)    Hadis Nu’aim al-Mujmiriy
Nu’aim al-Mujmiriy berkata, “Aku shalat di belakang Abu Hurairah, Dia membaca “bismilla-hirrohma-nirrohi-m” , kemudian membaca umm al-Qur’an (al-fatihah), ketika sampai pada ‘ghoiril maghdhu-bi ‘alaihim waladh dha-lli-n” maka ia membaca “a-min” dan para makmum juga membaca “a-mi-n”. Setiap akan sujud membaca “Alla-hu Akbar”, dan ketika berdiri dari duduk pada rakaat kedua ia mengucapkan “Alla-hu Akbar”. Setelah salam beliau berkata, “Demi yang menguasai diriku, sungguh shalatku yang paling menyerupai dengan shalatnya rasulullah.
Hadis ini dinilai oleh Chudhori sebagai hadis dho’if, tetapi menurut telaah penulis hadis ini berkualitas sahih. Pendapat yang menyatakan sahih juga dikemukakan oleh al-Daruqutni.  
Berdasar pada hadis-hadis tersebut di atas dapatlah disimpulkan:
1.    Rasulullah ketika menjadi imam pernah membaca basmalah secara keras, tetapi pernah juga membacanya secara lirih (cukup dalam hati). Sehingga bagi imam, boleh membaca bacaan ‘bismilla-hirrahma-nirrahi-m” dengan keras, tetapi boleh juga membacanya secara lirih (dalam hati).
2.    Pernyataan Abdullah ibn Mughaffal bahwa bacaan basmalah dalam shalat (secara jahr) adalah muhdas (bid’ah), tidak bisa diterima karena ada hadis sahih yang menyatakan nabi pernah membacanya secara keras. Pernyataan Abdullah ibn Mughaffal itu disebabkan karena ia tidak mengetahui nabi pernah membacanya secara keras. (Wallahu a’lam bish s}awa>b).
F. Membaca “A-MI-N” dengan Nyaring
Apabila Imam telah membaca ”Waladhdha-lli-n” maka bacalah “a-mi-n” dengan nyaring. Hal ini berdasar pada hadis dari Abu Hurairah:
Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apabila Imam telah membaca “ghoiril maghdhu-bi ‘alaihim waladh dha-lli-n” maka bacalah “a-mi-n”. Sesungguhnya Malaikat membaca “a-mi-n” bersama-sama dengan imam membaca “a-min-n”. Barang siapa membaca “a-mi-n” bersamaan dengan bacaan malaikat, niscaya dia diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.
Hadis ini berkualitas sahih , dan syah dipakai sebagai dalil.
Dan juga karena riwayat:
عن عَطَاءٌ إنَ ابْنُ الزُّبَيْر رضي  الله عنها كان يؤمن وَمَنْ وَرَاءَهُ بالمسجد الحرام حَتَّى إِنَّ لِلْمَسْجِدِ لَلَجَّةً
Dari Atha’ bahwa ibn al-Zubair ra membaca “a-mi-n” bersama-sama dengan orang yang shalat di belakangnya si Masjidil Haram sehingga masjid itu bergemuruh suaranya.
Dalam S}ah}i>h}  al-Bukhari teks lengkapnya adalah sebagai berikut:
بَاب جَهْرِ الْإِمَامِ بِالتَّأْمِينِ وَقَالَ عَطَاءٌ آمِينَ دُعَاءٌ أَمَّنَ ابْنُ الزُّبَيْرِ وَمَنْ وَرَاءَهُ حَتَّى إِنَّ لِلْمَسْجِدِ لَلَجَّةً
Bab Imam mengeraskan bacaan “A-mi-n”. ‘Atha’ berkata, “A-mi-n adalah doa”. Ibn Zubair membaca “A-mi-n” bersama-sama dengan orang yang ada di belakangnya sehingga masjid itu menjadi bergemuruh suaranya”.
Ini bukanlah hadis, melainkan hanya atsar  sahabat, dan dinukilkan oleh al-Bukhariy dalam kitab Sahih al-Bukhariy, Kitab al-Adzan, sebagai pembuka bab “Imam mengeraskan bacaan A-mi-n”. Dalam penukilannya, Bukhari tidak menyertakan sanad kecuali hanya menyebutkan ‘Atha’ saja. Dengan demikian, atsar ini tidak dapat dipertanggung jawabkan kesahihannya, dan termasuk dalam sanad yang da’if. Secara berdiri sendiri, atsar  ini tidak dapat dijadikan hujjah. Akan tetapi mengingat hadis nabi dari Abu Hurairah yang dijadikan dalil utama di atas berkualitas sahih, maka keda’ifan atsar  Ibn Zubair  ini tidak berpengaruh terhadap hujjah yang telah diambil.
Dan juga riwayat:
عن عطاء بن أبى رباح قال أدركت   مائتين  من الصحابة رضي  الله عنهم إذا قال الامام ولا الضالين   رفعوا    أصواتهم  بآمين
Atha’ berkata, “Aku telah menjumpai dua ratus sahabat ra apabila Imam membaca “walad}d}alli>n”, merekapun mengeraskan suaranya dengan bacaan “a>mi>n”.
Atsar ini diriwayatkan oleh Muhammad ibn Hibban .  Dalam Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah dinyatakan bahwa riwayat ini memiliki sanad yang sahih.  Ibn Hibban juga memasukkan riwayat ini sebagai riwayat yang sahih.

F. Mengeraskan Bacaan Takbir Intiqal
Dan hendaklah Imam mengeraskan bacaan takbir intiqal (berpindah dari rukun ke rukun lain), agar orang yang shalat di belakangnya dapat mendengar. Apabila dipandang perlu, orang lain dapat menjadi muballigh (penyambung takbir Imam agar sampai kepada makmum).
Hal ini berdasar kepada hadis:
عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ صَلَّى لَنَا أَبُو سَعِيدٍ فَجَهَرَ بِالتَّكْبِيرِ حِينَ رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ وَحِينَ سَجَدَ وَحِينَ رَفَعَ وَحِينَ قَامَ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ وَقَالَ هَكَذَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Sa’id ibn al-Haris berkata, “Abu Sa’id bershalat menjadi imam kita, maka membaca takbir dengan nyaring tatkala mengangkat kepalanya bangun dari sujud, ketika akan sujud, ketika bangun, dan ketika berdiri dari dua raka’at. Selanjutnya dikatakan, “Demikianlah aku melihat Rasulullah saw”.
Hadis ini berkualitas sahih dan syah sebagai hujjah.
Juga karena hadis:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّيْنَا وَرَاءَهُ وَهُوَ قَاعِدٌ وَأَبُو بَكْرٍ يُسْمِعُ النَّاسَ
Jabir berkata, “Rasulullah saw pada suatu ketika menderita sakit, kemudian kami shalat di belakangnya, dan beliau shalat dengan duduk, serta Abu Bakar memperdengarkan takbir beliau kepada orang banyak”.
Hadis ini berkualitas sahih dan dapat dipakai sebagai hujjah.
Juga berdasar hadis:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ وَأَبُو بَكْرٍ خَلْفَهُ فَإِذَا كَبَّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ أَبُو بَكْرٍ يُسْمِعُنَا
“Rasulullah saw shalat Dhuhur sedang Abu Bakar di belakangnya. Apabila beliau saw bertakbir, maka Abu Bakar bertakbir agar kami mendengarnya” .

G. Makmum Masbuq
Apabila kamu mendatangi shalat jama’ah dan mendapati imam sudah mulai melakukan shalat, maka bertakbirlah kamu lalu kerjakanlah sebagaimana yang dikerjakan Imam. Dan jangan kamu hitung rakaatnya kecuali jika kamu sempat melakukan ruku’ bersama-sama dengan imam.
Hal ini berdasar pada empat buah hadis, yaitu:
1.    Hadis dari Abu Hurairah:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا وَلَا تَعُدُّوهَا شَيْئًا وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apabila kamu datang untuk shalat (jamaah) padahal kami sedang sujud, maka sujudlah dan kamu jangan menghitungnya satu rakaat, dan barang siapa telah menjumpai ruku’nya imam, berarti dia menjumpai shalat (rakaat sempurna).
Hadis ini diperselisihkan kesahihannya. Ibn Khuzaimah dan al-Hakim menyatakan bahwa hadis ini berkualitas sahih. Sedangkan al-Daruquthni dan Chudhari  menyatakan bahwa hadis ini berkualitas da’if. Pangkal perbedaan pendapat tersebut terletak pada Yahya ibn Abi Sulaiman, seorang rawi yang semua jalur sanad hadis ini melewatinya. Terhadap Yahya ibn Abi Sulaiman ini dinilai sebagai rawi yang siqqah oleh Ibn Hibban dan al-Hakim, sedangkan al-Bukhari menilainya sebagai munkar al-hadis. Abu Hatim al-Razi mencacatnya sebagai mudhtharib al-hadis dan laisa bil qawiy. Menurut Muhammad Syams al-‘Adzim al-Abadiy, Yahya ibn Abi Sulaiman diragukan telah mendengar hadis ini dari Zaid ibn ‘Attab dan dari Ibn al-Maqbariy, sebagaimana yang terdapat dalam jalur sanad hadis ini . Melihat al-jarh wa al-ta’dil pada diri Yahya tersebut, serta ketersambungan sanadnya dengan.Zaid ibn ‘Attab dan Ibn al-Maqbariy, penulis lebih cenderung menyimpulkan hadis ini sebagai hadis yang da’if, tetapi tingkat keda’ifannya tidak terlalu parah, sehingga hadisnya bisa ditulis dan dipakai sebagai pendukung dan penguat hadis lainnya.
2. Hadis juga dari Abu Hurairah:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ الصَّلَاةِ مَعَ الْإِمَامِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw bersabda, “Barang siapa mendapati ruku’ dari shalat berarti dia telah mendapati shalat (rakaat sempurna)".

Hadis ini berkualitas sahih menurut Bukhari dan Muslim. Hadis ini dapat dipakai sebagai hujjah.
3. Hadis nabi saw:
عن أبي هريرة أن رسول الله  صلى الله عليه وسلم قال ثم من   أدرك    ركعة  من الصلاة فقد أدركها قبل أن يقيم الإمام   صلبه
Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa menjumpai rakaat dari shalat sebelum imam berdiri tegak dari ruku’nya, maka berarti dia telah mendapat rakaat sempurna”.
Kualitas hadis ini diperselisihkan. Ibn Khuzaimah menyatakannya sebagai hadis sahih, sementara al-Daruqutni menyatakannya sebagai hadis da’if.
Sanad hadis tersebut masing-masing adalah sebagai berikut:
1). Ibn Khuzaimah – Abu Thahir –Abu Bakar – ‘Isa ibn Ibrahim al-Ghafiqiy – Ibn Wahb – Yahya ibn Humaid – Qurrah ibn ‘Abd al-Rahman – Ibn Syihab  Abu Salamah ibn ‘Abd al-Rahman – Abu Hurairah.
2). Al-Baihaqi – Abu Sa’ad al-Maliniy – Abu Ahmad ibn ‘Adiy Abdullah ibn Muhammad ibn Nashr & al-Qasim ibn ‘Abdullah & al-‘Abbas ibn Muhammad ibn al-‘Abbas – ‘Amr ibn Yahlu – Ibn Wahb - Yahya ibn Humaid – Qurrah ibn ‘Abd al-Rahman – Ibn Syihab – Abu Salamah ibn ‘Abd al-Rahman – Abu Hurairah
3). Al-Daruquthni – Abu Thalib – Ahmad ibn Muhammad al-Hajjaj ibn Rusydin – ‘Amr ibn Siwar & Yahya ibn Ismail – Ibn Wahb - Yahya ibn Humaid – Qurrah ibn ‘Abd al-Rahman – Ibn Syihab – Abu Salamah ibn ‘Abd al-Rahman – Abu Hurairah
Yahya ibn Humaid di da’ifkan oleh al-Daruqutni, dan menurut al-Bukhari tidak bisa diikuti.  Sedangkan Qurrah ibn ‘Abdurrahman, dicacat oleh Ahmad ibn Hanbal dengan munkar al-hadis, oleh Yahya dengan Da’if al-hadis, dan oleh Abu Hatim al-Razi dengan laisa biqowiy. Sedangkan menurut al-‘Uqailiy, yang diperkuat juga oleh al-Jurjaniy, lafal “qobla ay yuqi-ma shulbahu”  adalah perkataan ibn Syihab al-Zuhri yang dimasukkan oleh Yahya ibn Humaid ke dalam matan hadis tanpa disertai penjelasan, sehingga merupakan ziyadah (tambahan) yang masuk ke dalam matan hadis  
Memperhatikan kritik terhadap para rawi dan terhadap ziyadah dalam hadis ini, kami cenderung untuk sependapat dengan ad-Daruquthni yang menyatakan bahwa hadis ini berkualitas da’if.
4. Hadis dari Ali ibn Abi Thalib dan Muadz ibn Jabal:
عَنْ عَلِيٍّ وَعَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الصَّلَاةَ وَالْإِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ الْإِمَامُ
Dari Ali dan Muadz ibn jabal keduanya berkata, Rasulullah saw bersabda,  “Apabila salah seorang diantaramu mendatangi shalat (jamaah), pada waktu imam sedang berada dalam suatu keadaan, maka hendaklah ia kerjakan sebagaimana apa yang dikerjakan oleh imam”.
Hadis ini diriwayatkan oleh al-Tirmizi secara gharib dalam kitab Sunannya (Sunan al-Tirmizi, al-Jum’at ‘an Rasulillah saw: 539). Dalam sanadnya terdapat al-Hajjaj ibn Arthah yang dinilai sebagai orang yang shaduq tetapi melakukan tadlis oleh Yahya ibn Ma’in, Abu Zur’ah al-Razi, Abu Hatim al-Razi dan al-‘Ajaliy. Sedangkan shighat tahmmul yang digunakan kepada gurunya adalah ‘an. Jangankan hanya shaduq, orang siqqah sekalipun bila melakukan tadlis dan sighat tahammulnya memakai ‘an akan menyebabkan hadisnya berkualitas da’if. Apalagi menurut Ali ibn al-Madini, “Aku tinggalkan hadisnya dengan sengaja”. Dalam sanadnya juga terdapat Abu Ishak ‘Amr ibn ‘Abdullah ibn ‘Ubaid, yang menurut ibn Hibban melakukan tadlis, dan sighat tahammul kepada gurunya memakai lafal ‘an. Hadis ini berkualitas da’if.
H. Menyempurnakan Shalat yang Tertinggal
Kemudian sempurnakanlah shalatmu sesudah Imam bersalam. Hal tersebut didasarkan pada hadis dari Mughirah ibn Syu’bah pada perang Tabuk:
“Para shabat mengajukan Abdurrahman ibn ‘Auf ra, kemudian iapun shalat mengimami mereka.Rasulullah saw mendapati satu dari dua rakaat shalat itu, sehingga beliau shalat bersama orang banyak dalam rakaat yang akhir. Setelah ‘Abdurrahman ibn ‘Auf salam, maka Rasulullah berdiri menyempurnakan shalatnya. Setelah Nabi saw menyelesaikan shalatnya, kemudian beliau menghadap ke arah para sahabat seraya bersabda, “Kamu sekalian mengerja
Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Selasa, 15 Februari 11 - 08:38 WIB
Dalam Kategori : AGAMA
Dibaca sebanyak : 24812 Kali
Rating : 1 Bagus, 0 Jelek
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback